Rabu, 01 April 2015

Bukan Pangeran Impian

Suami saya adalah seorang antimainstream. Tak umum. Tidak sama dengan suami kebanyakan. Ini kalau dihubungkan dengan judul di atas. Jadi betul, memang bukan impian. layaknya mimpi gadis belia yang sudah pasaran. Seperti tampan, romantis, bla bla bla ... lalu ujungnya adalah berkuda putih. Aih ... ke mana hendak mencarinya, gadis belia?

Pertemuan kami unik. Karena tak pernah ada kisah pertemuan antara suami-istri yang tidak unik, bukan? Selama ini, dalam obrolan ringan semi santai, dia pernah mengungkapkan, hal yang menyambung satu ingatan terhadap saya adalah hujan berpetir. Ini berkaitan dengan masa-masa ta'aruf kami.

Dalam proses pencariannya akan seorang istri, apa yang sedang dijalaninya banyak kala terlupa. Tersita dengan keasyikan menghadapi pinsil dan kertas (hingga sekarang pun masih, prioritas yang ditemuinya adalah mereka). Lalu saat hendak ke mana, tujuannya beristri disadarkan berulang kali. Itu tadi, dengan petir saat hujan turun.

Lalu di mana letak unik tersebut?

Saat pertama kali bertandang (ke Cirebon), dia sudah merasa familiar dengan keluarga saya. Padahal tentu baru itulah pertemuan kami-kami ini. Bahkan dari penuturannya selanjutnya paska menikah, sempat dia bermimpi dan bersenda gurau dengan anggota keluarga, minus saya.

Kemudian, saya ketahui juga cerita dari bapak mertua,jika asal-usul asli buyut mereka adalah dari Cirebon pula. Lagi-lagi, pepatah yang mengatakan dunia hanya selebar daun kelor atau dunia itu sempit, benar adanya.

Bukan tanpa selisih, kami mengarungi kehidupan berumah tangga.Karena bagaimanapun background, sifat dan kebiasaan kami banyak berbeda. Dia tak pernah se-charming bayangan saya akan suami romantis. Yup, dia memang tak romantis. Sama sekali. Tapi, kami selalu sepakat, bersyukur saling dipertemukan masing-masing. Saat beberapa insan di luar sana masih dalam gulana pencarian pasangan halal.

Saya bersyukur juga, karena sosoknya yang asli jawa tidak 'jawa'. Dalam artian tak pernah sungkan ataupun segan membantu hal-hal yang konon sudah bertajuk itu adalah 'tugas total' wanita atau seorang istri tepatnya. Seperti memasak, satu misalnya. Jujur, khusus masakan tertentu, racikannya lebih maknyuss dari yang saya garap. Ternyata, saat melajang dulu, dia memang sudah sangat biasa memasak, walau hanya beberapa yang dia minati. Ah, no wonder ...

Jadi, menu semisal oseng-osengan dan sambal, dialah jagonya. Malah, kalau 'semangat' memasaknya tiba-tiba muncul, tanpa banyak bicara (yang mana memang sudah karakter dasarnya yakni pendiam super) dia akan memasak ini-itu. Paling sebelumnya bertanya, ada bahan apa yang nganggur. Usai siap santap alias rampung, hehehe ... bagaikan seorang anak yang baru pulang setelah bermain, saya tinggal ambil piring. Isi nasi, menyendok lauk yang sudah tersedia dan menyantapnya dengan nikmat. Barangkali amat sangat sederhana, hanya oseng dan sambal terasi (kerupuk sebagai pelengkap seringnya beli), tapi ... maknyuss pemirsa. Asal jangan meminta dia masak sayur saja, ah juga tidak dengan ikan dan daging-dagingan, dia pasti kelabakan. Di bagian inilah saya akan ambil alih kemudi dapur. Walau jenis masakan yang dihasilkan tak pernah luar biasa. Sebatas digoreng.

'Ala kulli hal Alhamdulillah. Di antara debat-debit hampir sengit, cekcok-ceksoun kecil dan aral rintang lain yang sekali tiga mengemuka, kami selalu mencoba terus belajar saling mengisi. Ya, sesungguhnya proses belajar itu takkan pernah usai.[]


Meramaikang http://www.lovrinz.com/2015/03/giveaway-rahasia-hati-suami.html?m=1#more

4 komentar:

  1. wah, ini blognya mbak Dinu toh :D
    hihihi, ceritanya keren. waktu kubaca, loh Cirebon ... eh pas baca di akhir ada namanya, Dini Nurhayati. hihihi.

    Makasih sudah ikut berpartisipasi ya. Sharingnya tentang suami 'yang bukan pangeran impian' ini mengajarkan banyak hal. Ah tentang masak memasak itu kurasa kita sebelas dua belas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. He, iya Mba Rina ^^. Masih bayi nih. Belum banyak temannya. Terimakasih juga sudah sedia mampir. Malu aku, masih bertaburan typo, hoho.

      Asyiiik, ada temannya. Mungkin kl ada grup ibu-ibu yang suaminya lebih lihai memasak, aku otomatis jadi anggota, :D

      Hapus
  2. Balasan
    1. Aih, ada yg ngajkin suit. Mba pasang apa? Telunjuk ya? Kalau gitu aku jempol, hehe

      Hapus