Tampilkan postingan dengan label adzan maghrib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label adzan maghrib. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Juni 2017

Adzan Maghrib Romadhon


Romadhon, sang bulan puasa, bulan primadona jika boleh saya sebut, sudah berjalan sepertiganya. Sekarang, sebagai informasi, saat ini diketik sudah memasuki tanggal/hari ke-10 Romadhon. Dan saya yang memang kerap teringat banyak hal semasa kecil dulu, khususnya momen-momen Romadhon, kali ini teringat dengan almarhum Aki dan "adzan Maghrib-nya".

Sudah merupakan pemahaman global (dan ini sesuai dengan yang disyariatkan), jika waktu mulai berpuasa adalah secara simpelnya sejak adzan Shubuh berkumandang hingga adzan Maghrib.

Adzan Shubuh sebagai batas waktu selesainya sahur, yang di lingkungan kita 7-10 menit sebelumnya diisyaratkan melalui sirine. Dengan maksud supaya bersiap berhenti makan-minum dan tidak terlalu mepet ke adzan Shubuh.

Lalu kita pun secara reflek, bila adzan maghrib berkumandang, buru-buru menghadapi makanan atau mengambil gelas untuk minum.

Dan suatu hari di satu bulan Romadhon, adzan maghrib akhirnya berkumandang. Ketika itu kami sudah liburan dan berkumpul di rumah Aki.

Begitu "Allohu Akbar... Allohu Akbar..." kami para cucu bahkan orangtua kami seketika beranjak dari duduk yang menyebar. Meninggalkan kesibukan (atau keasyikan?) masing-masing. Gempita dan serentak menuju meja besar di mana bergelas-gelas takjilan terhidang.

Salah satu dari kami mengajak Aki untuk bangkit. Aki yang sedang duduk di kursi favoritnya (selalu di kursi paling ujung dekat pintu) lalu merespon, "Adzan itu panggilan untuk sholat. Bukan panggilan makan-minum". Hening. Kami membisu. Tidak ada yang berani membantah. Sebab, memang benar adzan merupakan ajakan untuk sholat. "Hayya 'ala sholah... Marilah kita sholat..." bukan "hayya nakul... hayya nasyrob...", "marilah kita makan... marilah kita minum...".

"Tapi kan, tanda berbuka puasa yang berarti boleh makan dan minum, dicirikan dengan adzan Maghrib tersebut?" Kami para cucu sempat berbisik-bisik. Sembari jadi malu sebab semangatnya bukan main kala menyeruput dan menyendoki es buah. Sementara Aki setelah terpekur mendengar adzan hingga selesai bangkit menuju belakang, ke kamar kecil atau sumur, entah yang mana tepatnya. Tapi tentu untuk berwudhu.

Kami kasak-kusuk soal Aki. Minimal ya membatalkan puasa dulu, begitu pikir para orangtua kami.

Hari ini, kenangan soal adzan Maghrib itu jadi pengingat. Betul adzan maghrib pertanda sahnya makan minum. Tapi mengingat waktu sholat maghrib yang cukup singkat, memang baiknya adalah sekadar membatalkan, minum segelas air dan kurma (jika ingin mengikuti sunnah Rosululloh). Jadi, jangan sampai terlalu bernafsu, lalu tahu-tahu... maghrib usai, sholat lalai. Astaghfirulloh.

Saya pun kadang, apalagi posisi sekarang ini tengah menyusui, sesudah adzan selekasnya minum. Dari air putih, susu, dan jika ada sirup bercampur buah. Lalu dilanjut makan, baru sholat.

Teringat almarhum Aki soal ini, kala saya tersadar betapa nafsunya saya "balas dendam". Romadhon kurang lebih masih ada 2/3 lagi. Ada kesempatan untuk benahi cara berbuka puasa. Buka sekadarnya untuk membasahi kerongkongan dan ganjal perut. Nanti usai maghrib dan isya (terawih) kegiatan isi perut itu toh bisa dilanjut lagi.

Bagaimana dengan busui nih? Ya, tentu bisa diatur, misal harus diisi nasi, barangkali setengah porsi dulu mesti cukup. Ketimbang minum-makan hingga sepuasnya, lalu sholat terburu-buru sebab mepet ke isya. :'(

Semoga tulisan yang sesungguhnya untuk pengingat dan dalam rangka menasihati diri sendiri ini, bisa bermanfaat juga untuk teman sekalian yang membaca. :)
Allohu'alam bishshowwab.

Cirebon, 5, 6, 7 Juni 2017
#NulisRandom2017
(untuk) Hari ke-5
#CatatanRomadhon1438H