Sabtu, 05 September 2015

Lukisan Hujan

Oleh: Kirana Winata

Sebetulnya aku sudah bosan berada di sini. Sebuah ruangan yang catnya dominan putih. Untung hordengnya berwarna hijau, jadi tidak terlalu seram. Tak ada bau yang sedap sama sekali, kecuali saat seorang kakak atau tante atau ibu dan seorang om atau bapak yang sama-sama berjas putih, menghampiri ranjangku. Tubuh mereka wangi membuatku malu dengan diri sendiri yang sepertinya telah berhari-hari tidak mandi.


Tak pernah ada sosok lain kulihat selain orang-orang itu. Bahkan wajahnya pun seringnya tertutupi masker hijau. Dulu aku baik-baik saja. Tapi, saat sedang asyik mengamen tiba-tiba aku diajak seseorang.

"Langka nih. Jarang yang cakep begini, pasti laku mahal."

Aku mendengar kalimat tadi dengan bingung. Lalu sejak itu aku berpindah-pindah dari tangan ke tangan orang berbeda. Hingga akhirnya aku sampai di kota yang sering berkabut ini.


"Dik Azzam sedang mikirin apa? Kok melamun?"

Kak Harum--aku tidak tahu namanya, mungkin dua jejer kata di dada sebelah kirinya adalah namanya. Tapi aku belum bisa baca, jadi kusebut saja dengan Kak Harum--sudah ada di samping ranjang. Tatapanku masih mencoba menerobos ke balik jendela yang buram. Di luar terintip gelap, kelam, kelabu; semua berkabut. Membuat tidak jelas, apa itu pagi, siang atau malam.


"Azzam mau main ke luar. Di sini bosan," jawabku belum menoleh.

"Tapi di luar masih gelap. Semua orang masih pakai masker ...," kata seseorang yang baru datang. Aku menyebut dia Om Wangi.


"Sampai kapan, dong?" tanyaku tak sabar.

"Sampai hujan turun. Semoga saja itu tidak lama lagi," Kak Harum tersenyum. Aku juga berusaha tersenyum. Tapi mungkin gerak bibirku tertutupi selang transparan yang melintang di bawah lubang hidung. Dan tiba-tiba aku punya ide cemerlang, menurutku.

***


"Itu lukisan hujan. Bagus enggak?" tanyaku lemah, ketika mereka datang lagi di kunjungan selanjutnya. Aku takjub sendiri menatapi kaca jendela di dekat ranjangku persis.


Sepanjang mereka tak ada, kutempeli jendela itu dengan kertas-kertas putih yang kusobek kecil-kecil dari buku tulis yang diberikan untukku berhari lalu. "Biar hujannya cepat datang. Terus asapnya hilang semua ... deh ...," tambahku. Dan aku langsung terpejam, mungkin karena terlalu lelah. Aku ingin tidur dulu. Siapa tahu besok, saat kubuka mata, pemandangan di luar jernih kembali. Sebab semua asap terguyur hujan.[]



*Tulisan ini diikutkan dalam GA yang diadakan kaylamubara.blogspot.co.id bekerja sama dengan LovRinz Publishing*


Judul buku yang diambil inspirasi:
Hujan di Atas Kertas dan Melukis Ka'bah

Rabu, 02 September 2015

[Resensi] Fesbuk dan Kumpulan Fragmen Kehidupan

Fesbuk dan Kumpulan Fragmen Kehidupan
Oleh: Kirana Winata



Judul buku : Fesbuk, Kumpulan Cerpen
Penulis : Muhammaad Subhan dan Aliya Nurlela
Penerbit : FAM Publishing
Cetakan : II, Agustus 2014
ISBN : 978-602-17404-8-4





Disajikan oleh dua penulis, kumpulan cerpen dalam buku ’Fesbuk’ ini mengusung banyak tema yang coba diungkapkan. Dari judul mulanya saya berpraduga cerita-cerita yang akan disampaikan oleh Muhammad Subhan dan Aliya Nurlela sama-sama berkaitan dengan media sosial yang paling digandrungi sekarang ini, Facebook. Tapi rupanya tidak.



Ada 12 cerpen di buku ini, yang menarik saya pada kesimpulan untuk menyebutkan bahwa cerita-cerita itu serupa fragmen kehidupan banyak manusia. Tentang cinta, sosial, reliji, hingga soal rasa entah bernama apa.


Pada cerpen Fesbuk, yang judulnya dipakai pula sebagai judul buku ini, saya cukup terkecoh. Mengira kalau di dalamnya adalah kisah tentang hubungan manusia yang kemungkinan besarnya seputar cinta via facebook. Ternyata adalah tuturan ‘tempat rajukan yang balik merajuk’. Meskipun banyak yang sudah mafhum, soal asal mula terkenalnya facebook dan hal lainnya, cukup informatif juga untuk pembaca. Mengambil sudut pandang si facebook sendiri yang bercerita, membuat cerpen ini unik dibanding cerpen lainnya, dari segi point of view. Sama halnya dengan PoV pada cerpen “Darah, Oh, Darah” yang mengusung tema kemanusiaan.



Lelaki Majnun”, mirip hikayat klasik tentang penggembala kambing yang suka berbohong tentang kedatangan serigala. Hanya setting tempat cerita ini adalah salah satu kampung di Sumatera Barat, konon. Plot dan alur pun serta merta mudah ditebak. Dan yang sedikit mengganggu sekadar pengulangan kata ‘dagang’ di paragraph-paragraf awal. Selebihnya hingga bagian ending, cerita si Boneng ini tetap enak dinikmati.



Dari 12 cerita yang tersaji beberapa cerpen yang begitu selesai membaca menimbulkan pertanyaan adalah pertama “Tukang Cerita”: membuat penasaran pada kisah sesungguhnya, bertanya-tanya siapa gerangan nama penulis yang dialiaskan ‘Abdul Hakim’ tersebut; novel apakah itu yang ditulis diangkat dari kisah nyata seorang ‘Soraya’? Kedua, “Cerita Tentang Senja di Pantai Padang”. Di sana Muhammad Subhan pandai menggiring pembaca dengan paparan setting tempatnya. Ujung dari membaca kisah ini pun sama, rasa penasaran terhadap gadis yang menantikan selalu kedatangan si lelaki laut. Benarkah kisah ini adanya? Entahlah. Berikutnya, “Rinai di Matamu Aliya”—suka dengan sad-ending-nya yang logis dan “Bells’ Palsy”. Saya dengan iseng menduga-duga bila dua cerpen ini sedikit menyinggung atau ada keterkaitan dengan fragmen yang sebenar dialami penulis, walau entah di bagian mananya.




Sementara cerpen yang kurang greget—tentu menurut saya pribadi—adalah “Selamanya Aishiteru”. Berkisah tentang sepasang kakak adik yang saling mengagumi; pula tidak saling tahu bila sesungguhnya mereka bukan saudara seayah dan atau seibu. Lanjaran perihal ini kurang. Sehingga saat ending-nya mereka menikah, kesannya 'drama' sekali. Hal yang dapat diambil manfaat dari cerpen ini yaitu soal kegigihan belajar atau menuntut ilmu sekurang apapun kondisi kita.




Selain beberapa cerpen yang disebut dan sedikit diulas di atas ada cerpen-cerpen lain yang sayang kalau dilewatkan. Terpenjara Luka, Kupu-kupu di Ruang Tamu, Nei dan Suatu Hari di Masjid Rumah Sakit. Kesemuanya merupakan kisah-kisah—meski bersahaja--yang dapat memberi inspirasi dan pelajaran bagi pembaca. Misalnya pembaca penasaran dapat bisa memastikan dengan membaca sendiri kisahnya. Lalu bila kita berbeda pendapat, dapatlah kita duduk bersama membedahnya. :)




Secara fisik buku, kertas yang digunakan cukup tepat. Tidak menyisakan kertas ataupun sampul yang ‘menganga’ saat selesai membuka lembaran demi lembarannya. Kekurangan dari buku Kumpulan Cerpen Fesbuk ini barangkali pada tampilan sampul depannya. Di antara buku-buku terbitan FAM Publishing agaknya ini yang terkesan sepi warna, sehingga kurang menarik pandangan netra (menurut saya yang selalu menyukai komposisi warna yang dinamis, terleih untuk kaver buku). Sebab hanya dominan biru. Jadi bila nanti buku ini cetak ulang—dan saya rasa cukup layak untuk itu—alangkah baiknya bila tampilan sampul depannya lebih berwarna.[]




Sleman, 30 Juli 2015


Minggu, 30 Agustus 2015

[Resensi] Novel ANIMUS, Seven Days

Tetra Ceritera dan Danau Angkara
Oleh: Kirana Winata

Judul buku : ANIMUS, Seven Days, A Tetralogy Novel
Penulis : Ajeng Maharani
Kategori : Fiksi, Novel (Dewasa)
Penerbit : LovRinz Publishing
Cetakan : II (kedua), Desember 2014
Tebal : xiv + 235 halaman
ISBN : 978-602-71451-0-8



Kebencian adalah satu elemen rasa yang pasti dimiliki setiap manusia. Namun bagaimana rasa itu dapat dikelola adalah benar-benar urusan pribadi manusia itu sendiri. Apakah ia dapat mengendalikan, mengalihkan atau membiarkan bertumbuh, lalu melahap jiwa si empunya? Itu adalah pilihan. Dan pada satu topik inilah cerita bermula; bertumpu.



Mula-mula menatap judul novel ini, saya sudah diserbu rasa penasaran, hingga pada akhirnya bisa memiliki dan membacanya tuntas, rasa ingin tahu itu pun terlolosi. Dan ending-nya mengakibatkan saya terkontaminasi rasa ‘benci’. Bagaimana tidak? Sebab sedari menyantap rangkaian huruf-huruf prolog hingga epilog, jantung saya dipermainkan sedemikian rupa: berkerenyut, rileks, berkerenyut lagi, terus dan menerus.





Ada empat kerat kisah yang tersaji dalam ANIMUS: “Dentum Hati”, “Cinta si Gadis Lumpur”, “Lelaki dan Danau Legenda” dan “Bunga”. Saya coba ulas salah satunya, yaitu yang pertama.



Dentum Hati” bertutur tentang seorang gadis bodoh—kalau boleh saya sebut—bernama Salsa. Artis panggung yang terjerat cinta buta pada Darsono, anggota dewan yang sudah berkeluarga. Dikarenakan kasus video syur yang menyebar dan tertuduh sebagai pelaku, diri Salsa dan hidupnya yang semula hanya dipenuhi nama Darsono bergulir kepada Pak Hakim lalu Sang Komandan. Baru, setelah tiga hari dalam mengusahakan keadilannya Salsa merasa bak bola ping-pong, ia memutuskan untuk juga berontak. Melepaskan diri dari jeratan-jeratan “orang penting” yang berjanji membebaskan Salsa dari tuduhan menyebarkan video, dengan melepas selapis demi selapis kehormatannya sebagai penebus.



Pembangkangan Salsa tersebut, selanjutnya meliukkan alur lain lagi. Dan mempertemukannya dengan tokoh bernama Ari. Pemuda 23 tahun yang pendiam, pincang (halaman 13) namun ternyata seorang pembunuh bayaran. Hal ganjil bagi saya sebagai pembaca untuk mencerna bila sosok Ari dapat melumpuhkan pria besar kekar. Sedikit melawan logika. Walaupun ada satu narasi yang menyebutkan, meski fisik Ari berkekurangan, dia kuat, tenaganya jangan disangka. Ya, bisa jadi. Sebab kemungkinan sumber dan suluh energinya adalah juga rasa benci.



Lalu bagaimana kelanjutan kisah Salsa? Korelasi macam apa yang terbentuk antara dia dan Ari? Tentu tidak akan saya paparkan dengan gamblang di sini. Tapi sedikit sebagai bocoran (seperti biasa bila saya menulis resensi), tiga kisah setelah Dentum Hati adalah bukan lanjutan dari kisah Salsa dan Ari. Tapi cerita yang bernar-benar baru, berbeda, tapi tetap saling berkaitan. Bingung?



Di “Cinta si Gadis Lumpur” yang menceritakan kisah cinta monyet dua remaja SMU, Yana si anak berpunya dan Nora anak gadis petani biasa, ada satu fragmen kehidupan Salsa-Ari. Di sini pun, kedok salah satu orang penting, pula berandil memengaruhi lika-liku hidup Salsa, dibuka; yang ternyata orangtua Yana, tepatnya bapaknya. Silakan tebak yang mana dia kira-kira: Darsono, Sang Komandan ataukah Tuan Hakim? Terselip juga pertemuan antara Nora dan Bunga dalam satu angkutan umum. Sebaliknya di Dentum Hati, bila pembaca cermat ada adegan/narasi percakapan Nora dan Yana yang terdengar Salsa di setting tempat bernama Taman Soka.



Sementara saat cerita beralih ke “Lelaki dan Danau Legenda” fokus hanya pada Guntur dan Cuwa. Lagi-lagi soal asmara. Terjalin antara Guntur si penebang kayu dengan Cuwa, gadis primadona setempat. Ada tersisip nama Bunga disebut di sini.



Sedangkan di kerat terakhir, yaitu “Bunga”, adalah penjelas alur kejadian-kejadian dari kisah ketiga di atas. Dalam paparan tentang Bunga inilah pembaca akan ngeh dengan perjalanan Bunga. Bermodal intuisi “ada sesuatu terjadi” dia menempuh jarak, menjelajah tempat demi tempat, mencari sang calon pendamping hidup sekaligus mencari Danau Sinabu.



Maka perihal legenda Danau Sinabu, si Danau Angkara itu, menurut saya benar-benar terasa keterkaitannya dengan prolog di awal—yang mana penghuni danau tersebut yang berbicara—baru di dua potong cerita terakhir. Alasannya, tiga tokoh yaitu Guntur, Cuwa dan Bunga sungguh bersinggungan dengan mitos Sinabu pun tentu dengan kebencian yang mengakar kuat dalam diri satu tokoh sentral di antara mereka. Ialah Cuwa yang mengidam-idamkan tuah Danau Sinabu, di mana nestapa, permintaan, harapan, kutukan dan ‘kebahagiaan’ berkumpul.



Sedangkan di dua cerita pertama, hanya menyoal kebencian saja. Tak bersinggungan di sini, dalam artian tidak ada di antara tokoh-tokohnya entah Salsa atau Ari atau Nora atau Yana yang teramat ingin mengadu ke Danau Sinabu. Sebagaimana halnya Cuwa, gadis desa lugu yang menurut saya kemudian terasuki aura negatif Sinabu. Menjadi sosok paling kelam di antara semua tokoh ANIMUS, seolah berkepribadian tak lagi tunggal.



Ditutup dengan tiga ending yang bersifat open-ending—sebab menurut saya sepertinya masih bisa dilanjut—ANIMUS yang berarti sama dengan kata ‘hate’, sukses mengaduk debur jantung dan perut saya menjadi bergejolak; mual; perih. Aih, saya harus meminta pertanggungjawaban Ajeng Maharani sang penulis kalau begini. Sebab bila ditambahkan kosa kata ‘kembung’, tidak ada hal lain selain indikasi dari maag saya yang kambuh. :)



Masih berkaitan dengan ‘cerita yang berlanjut’, membaca frasa ‘A Tetralogy Novel’ membuat saya mengira bila novel ANIMUS bertajuk Seven Days ini adalah bagian pertama dari total novel nantinya yang berjumlah empat. Saya mengartikan bebas frasa tersebut menjadi Novel Tetralogi. Persis seperti dwilogi, trilogi. Jadi di pikiran saya ANIMUS ini akan berseri.


:



Dari segi tekhnik, ANIMUS disampaikan dengan alur maju-mundur dan plot yang kompleks. Penceritaan pun dengan multi point of view alias sudut pandang. Bergantian antara sebagai orang ketiga dan orang pertama (aku). Untuk setting khususnya tempat, kesemuanya adalah murni hasil rekaan dan imajinasi penulis. Namun dari pemaparannya, seolah Pulau Maku-Maku, Tanjung Yaura, Taman Soka, hutan tempat Guntur bekerja dan lainnya mirip Pulau Sumatera atau Kalimantan. Lalu ditaburi diksi-diksi yang tak biasa, memang menjadikan novel ANIMUS ini punya khas tersendiri. Khas seorang penulisnya tentu, yang memang menyukai hal yang tidak klise, terlebih pada kosa kata. Ibu dari tiga anak ini, dari pantauan saya, memang menyenangi dan terlihat sering membiasakan karyanya ditulis dalam kosa kata bentuk padanan yang jarang digunakan orang lain. Ini satu kelebihan sekaligus kekurangan, sebab pembaca yang benar awam (bukan merupakan penulis pula) akan dibuat ‘mabuk’.



Lalu sekadar saran, saya mewanti-wanti agar pembaca yang benar-benar belum dewasa tidak dulu membaca novel ini. Setidaknya range usia pembaca yang cukup boleh adalah 20+ alias 20 tahun ke atas. Sebab di beberapa fragmen, diksi dalam narasinya saya rasakan terlampau “jujur”, semisal “menikmati”, “memakai” dan lainnya.



Satu hal lagi yang ingin saya titipkan kepada sang penulis, jikalau ANIMUS Seven Days ini hendak dilarung untuk kembali berlayar menggunakan “yacht“ di samudera lepas, kaver depan buku—bergambar permukaan danau berhias tanaman kering dan purnama—yang cenderung gelap semu kelabu ini mungkin ada baiknya diubah. Bisa dengan tetap menampilkan aksen kelam bila ingin isi novel tetap terwakilkan. Sebab bila ini saja berhasil cetak ulang apatah nanti. Semoga. Salam sukses.[]



Sleman, Dzulqodah 1436 H
30 Agustus 2015




#GA_ANIMUS


(995 kata)



Jumat, 31 Juli 2015

Lebaran Kedua Tahun Itu

Lebaran Kedua Tahun Itu
Oleh: Dinu Chan


Kullu nafsin dzaaiqotul mauut. Kalimat ini pasti sudah kita hapal betul. Bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Meninggalkan semua kefanaan hidup di dunia, menjemput keabadian yang lebih hakiki yaitu di akhirat. Terkadang ketika tema ini dibicarakan, semua seolah mimpi atau omong kosong saja. Tapi saat kabar kematian yang disiarkan dekat dengan kita, kesadaran otak kembali tertampar diingatkan. Menghembuskan nafas yang terakhir adalah sebuah keniscayaan.


Dan rasa tak percaya itupun hadir dalam kehidupanku. Sebelumnya tak pernah kualami kehilangan dalam keluargaku. Lebaran kala itu, kami sekeluarga sengaja pulang kampung lebih awal, toh hari sekolah sudah libur. Tak ada pula urusan-urusan yang dapat menahan orangtua kami lebih lama di kota perantauan.


Memang manusia tak pernah akan tahu kapan malaikat maut mengintip. Entah pada orang terdekat yang dicintainya atau terhadap dirinya sendiri. Tapi masa itu, ada rasa puas dalam hati masing-masing kami saat dapat benar-benar menghabiskan libur lebaran di kampung tercinta Desa Cijulang di Ciamis sana. Khususnya orangtua, yang dapat menemani, mengukir hari-hari indah bersama Kakek-Nenek lebih lama dari lebaran tahun lalu.


Pada hari Lebaran kedua atau tanggal 2 Syawal, puas berkeliling bersilaturahmi pada sanak famili yang tersebar di satu desa dan lainnya, sebagian kami memilih beristirahat sembari menanti adzan Dhuhur berkumandang. Sedangkan yang anak-anak memilih berbaring di atas lantai beralas tikar untuk menonton televisi atau santai-santai kembali menyantap kue lebaran yang masih ada.


Di belakang, suara timba yang dikerek sebentar-sebentar terdengar. Kakek tengah mencuci baju. Katanya besok dia harus kembali ke Kota Bandung ke kantor lamanya di POS&Giro kala itu disebut. Dia bermaksud menyiapkan semua untuk perjalanan besok. Dia paham seisi rumah pasti lelah, sehingga baju-bajunya yang hendak dibawa esok ia cuci sendiri. Aku masih melihat Kakek setelah Dhuhur, duduk di kursi favoritnya yaitu yang paling dekat dengan pintu. Menyaksikan cucu-cucu di depannya yang tengah asyik di depan televisi. Sekali-kali aroma balsam menguar tercium. Kakek oleskan ke bagian tubuhnya yang barangkali terasa pegal. Sampai kemudian tinggal aku dan adik perempuanku yang masih balita tersisa di ruangan itu. Kakek melambaikan tangannya, memberi kode untuk menghampiri. Aku mendekat. Rupanya dia meminta bantuan untuk memilinkan kertas berisi tembakau di atasnya. Rampung membentuk silinder kecil, Kakek raih untuk kemudian dinyalakannya ke dekat api lalu dihisapnya.


“Aki mah ngaroko wae sih? Kakek ko merokok saja sih?” Cuma itu yang dapat kukatakan pada sosok yang kerap membelikanku oleh-oleh berupa kaset lagu anak-anak setiap kali ia kembali dari Bandung. Sudah dituliskannya di sisi kaset nama lengkapku dengan huruf kapital: DINI NURHAYATI. Membuatku merasa hadiah kakek hanya untukku saja.


Dia hanya terdiam. Selanjutnya tiba-tiba dia rentangkan kedua tangannya ke arah adik perempuan yang sedari tadi memperhatikan terus, mengajaknya dalam pangkuan. Tapi adik menggeleng. Tangan kakek turun menyerah. Ia masuk kamar untuk beristirahat. Sementara nenek sudah lebih dulu merebahkan tubuh lelahnya di sana.


Menjelang maghrib, Uwa ketuk pintu kamar Kakek-Nenek. Hendak membangunkan Kakek karena ada tamu. Tapi Kakek terlelap. Sang tamu pun meminta agar Kakek tak usah dibangunkan, khawatir mengganggu, biar mereka pulang. Lain kali saja datang kembali. Selesai adzan Maghrib, Uwa masuk ke kamar, lagi-lagi tujuannya untuk membangunkan Kakek, waktunya sholat Maghrib.

“Apa gugah … bangun Pak ….”

Berkali-kali kata itu Uwa lontarkan sembari menggoyang tubuh kakek perlahan. Tapi Kakek masih bergeming. Kedua tangannya sudah saling bertumpuk di atas dada. Kemudian kulitnya diraba dan menghantarkan dingin luar biasa. Seketika itu orangtua-orangtua kami sadar Bapaknya telah tiada. Tidur lelap itu untuk selamanya. Maka putra-putra Kakek yang masih berada di Masjid dipanggil segera, diberitahukan kabar itu. Cucu-cucu Kakek yang masih kecil hanya dapat memasang wajah bingung melihat hilir mudik. Aku sendiri sudah bisa meneteskan air mata. Saat keramaian itu terdengar, aku tengah menyelesaikan rokaat terakhir sholat Maghrib. Doa selesai sholat pun terlantun khusus untuk almarhum. Saat Uwa mengambil jemuran di luar baru diketahui, Kakek tadi tak hanya mencuci bajunya saja, tapi juga baju semua anak-cucunya. Perasaan yang membuncah di dada kami pun semakin menjadi, diringi doa dan lantunan ayat Quran.[]


"Exchange, Publisihing Your Idea"






Note: Cerpen pernah masuk ke dalam buku antologi, terbitan Pena Indis Publishing dengan Judul Ada Baju Kami yang Kakek Cuci

Senin, 13 Juli 2015

Resensi Buku "Sang Maha Pengasih"

Judul : Sang Maha Pengasih: Kumpulan Kisah Anak Baik yang Mendapat Pertolongan Allah
Penulis : Annisa Widiyarti
Penerbit: Tiga Ananda, Imprint Tiga Serangkai
Cetakan : I, Maret 2015
Tebal : 24 halaman
ISBN : 978-602-366-011-7



Saat Fikri dan Alya sedang makan siang, tiba-tiba ada seekor kucing berbulu kuning masuk ke dalam rumah sembari terus mengeong. Karena merasa kasihan, Fikri pun memberi kucing tersebut tulang ikan. Si kucing berbulu kuning lantas berlari setelah mengambil dan menggigit tulang ikan tadi.


Selesai makan, Fikri dan Alya membantu ibu merapikan meja makan juga mencuci piring. Tiba-tiba terdengar lagi suara kucing mengeong. Ternyata kucing yang sama. Dia meminta tulang ikan lagi. Fikri dan Alya menjadi penasaran. Mengapa kucing ini meminta makan lagi?


Diam-diam Fikri dan Alya mengikuti si kucing yang berlari kembali setelah mendapat tulang ikan kedua kalinya. Nah, ada apa ya?

Kisah di atas berjudul "Kucing Dua Kali Meminta Makan". Selain cerita Alya, FIkri dan si kucing, ada 13 judul lain yang seru dan menarik.


Ada Dimas yang "Menolong Anak Kecil", "Meminta kepada Allah", "Gagal Berwisata?", "Hari Terakhir Ujian", "Rautan yang Rusak", "Mobil Impian", "Perlindungan dari Allah", "Pertolongan dari Allah", "Sedekah Iqbal", "Tablet Impian", "Tas Ojek Payung", Di Mana Uang SPP Hamdi" dan "Satu Kebaikan".


Pesan yang tersembunyi namun jelas dari kumpulan kisah ini adalah agar anak-anak menjadikan doa kepada Allah sebagai kebiasaan yang baik. Sebab Allah Sang Maha Pengasih, akan selalu menolong hamba-Nya, dengan cara yang tidak bisa disangka atau tak terduga. Sungguh Allah sayang kepada hamba-Nya.


Senin, 06 Juli 2015

Jangan Kikir Terhadap Diri Sendiri

Sebab mengikuti kuis kata-kata bijak di satu grup, saya langsung teringat dengan petuah dosen saat kuliah, yang kalimatnya menjadi judul di atas.

Sayang, saya lupa nama ustadz sederhana itu. Yang dibanding dosen lain, penampilannya paling simple. Semoga Alloh swt memberi tempat indah bagi Almarhum. Membalas kebaikannya. Aamiin.

Kikir pada diri sendiri ini bisa jadi luput dari kesadaran. Karena kita sering mendapat petuah bahwa mendahulukan kepentingan orang lain adalah suatu kebaikan dan lebih utama. Tapi, nyatanya diri sendiri pun punya hak untuk 'diperhatikan'. Bukan soal yang berkaitan dengan materi saja. Tapi lebih dari itu.

Ada hak untuk mengamankan; menyelamatkan iman, kebutuhan ruh, kesehatan hati, dan penjagaan diri dari hal-hal bersifat negatif atau buruk atau tak mengandung manfaat.

Kikir terhadap diri sendiri bukan hanya tak memenuhi kebutuhan pribadi dalam hal makan makanan sehat, menyandang pakaian baik dan atau memiliki harta yang cukup untuk ini itu.

Kita mungkin masuk kategori kikir, saat makanan yang masuk ke perut tidak sungguh-sungguh diperhatikan sumber datangnya; cara memperolehnya; halal atau tidaknya, dan sebagainya.

Kita mungkin masuk kategori kikir, saat pakaian yang disandang terselip tabarruj, tak menutup aurat atau melewati batas dari fungsi dasarnya, yaitu untuk melindungi tubuh.

Kita mungkin masuk kategori kikir saat membiarkan diri terus menerus menapaki jalan hidup yang tidak diridhoi Alloh, Sang Pencipta diri.

Kita mungkin masuk kategori kikir saat membiarkan diri faqir ilmu dan pengetahuan akan agama sendiri.

Dan kita barangkali lebih kikir lagi, manakala telah mengetahui; ditunjukkan kebenaran (haq) dan bathil, namun tetap bergeming. Atau yang terparah justru memutarbalikannya.


Allohu'alam bishshowwab.


Sungguh, ini semata untuk memberi peringatan terhadap diri saya sendiri. Agar tidak lagi 'menyepelekan kebutuhan diri'.


Cirebon,
Ramadhan, 19 1434 H
July, 6 2015 M

Minggu, 14 Juni 2015

Giveaway "Ramadhan in Love": Taushiyah Nihil Sentimentil yang Menyentil

Petuah Nihil Sentimentil yang Menyentil
Oleh: Dini Nurhayati

Ramadhan tahun kemarin agaknya terlalu meninggalkan kesan untuk bisa dilupakan. Bagi beberapa teman mungkin masih ingat, tahun kemarin (2014), berita soal Palestina mencuat kembali ke permukaan. Dan telinga ini sejujurnya sudah cukup akrab dengan kabar-kabar yang menyoal mereka sejak masa kuliah dulu.


Namun perputaran jaman sedikit banyak mengubah juga alur kehidupan. Update tentang bumi Al Quds yang merupakan kiblat pertama umat Islam tersebut, mulai luput dari mendapat perhatian. Betul, hati turut berduka. Tapi tergerogoti rasa asing entah bernama apa.


Lalu, saat di kesunyian membaca-baca lagi kabar seputar Palestina, kesungguhan rasa yang sempat hilang itu muncul kembali. Benar-benar baru terbit keinginan untuk berbagi, meski sedikit yang dimampui.


Dan seolah menggiring kesadaran, ada satu selebaran yang terbaca. Tentang acara bertajuk taushiyah menjelang berbuka puasa bersama. Acara tersebut akan menghadirkan seorang syaikh yang berasal dari Palestina. Tujuan acara memang untuk menggalang dana. Membantu penduduk Palestina.


Tertarik saya pun mengikuti acara itu. Bahkan taushiyah itu disampaikan oleh sang syaikh. Tapi dari penuturan beliau—dibantu diterjemahkan seorang ustad—yang menceritakan bagaimana situasi di sana, sungguh tak ada nada serupa memelas. Sebaliknya justru.


Kami yang hadir kala itu hanya diingatkan untuk bersyukur. Betapa ibadah puasa dan amalan lainnya di bulan Ramadhan dapat kami kerjakan dengan suasana yang tenang dan damai. Tanpa perlu ada rasa cemas, tersebab langit yang rajin dihujani rudal. Tanpa rasa takut tentang anggota keluarga yang sekali-kali waktu bisa saja terampas, akibat terkena serangan. Entah peluru nyasar ataupun memang target incaran.


Benar, amat jarang bersyukurnya jiwa ini untuk hal-hal kecil. Bila saja keadaan sebagaimana yang terjadi di Palestina dialami, belum tentu diri dan iman kuat menjalani. Terlebih saat bulan puasa. Ramadhan kemarin selalu menjadi pengingat diri untuk senantiasa bersyukur dan menghalau kikir dalam diri.[]





“Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway Ramadhan in Love”